|
M
|
otivasi adalah usaha yang didasari
untuk mengerahkan dan menjaga tingkah seseorang agar ia terdorong untuk
bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Motivasi belajar adalah suatu
perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang ditandai dengan
timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Frederick J.Mc.Donald
dalam H Nashar, 2004:39). Tetapi menurut Clayton Aldelfer dalam H.Nashar
(20004:42) motivasi belajar adalah kecenderungan siswa dalam melakuka kegiatan
belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi hasil belajar sebaik
mungkin.
Motivasi belajar juga merupakan kebutuhan untuk
mengembangkan kemampuan diri secara optimum, sehingga mampu berbuat yang lebih
baik, berprestasi dan kreatif (Abraham Maslow alam H.Nashar, 2004:42) motivasi
belajar adalah suatu dorongan internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang
atau individu untuk bertindak atau mencapai tujuan, sehingga perubahan tingkah
laku pada diri siswa diharapkan terjadi.
Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong
siswa untuk belajar secara sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk
cara belajar siswa yang sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi
kegiatan-kegiatannya.
FUNGSI MOTIVASI DALAM
BELAJAR
Agar siswa dapat mencapai hasil
belajar yang optimal, maka diperlukan adanya motivasi. Perlu ditekankan bahwa
motivasi bertalian dengan suatu tujuan.
Sehubungan dengan hal tersebut, ada
tiga fungsi motivasi:
1. Mendorong manusia untuk berbuat. Jadi, sebagai penggerak
atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor
penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni kea rah tujuan yang
hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan
yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan. Apa
yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan
perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa
yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan
kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau
membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Disamping itu, ada juga
fungsi-fungsi motivasi lain. Motivasi dapat juga sebagai pendorong usaha dan
pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi.
Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.
Dengan kata lain, bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari
adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat menelurkan prestasi
yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajarnya.
Di dalam kegiatan belajar mengajar
peran motivasi baik instrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Motivasi
bagi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan mengarahkan serta memelihara
ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Membangkitkan motivasi belajar
tidaklah mudah, untuk itu guru perlu mengenal siswa dan mempunyai kesanggupan
kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan dan minat siswa. Dalam
hal ini Sardiman (1986 : 91-94) mengemukakan bahwa ada beberapa bentuk dan cara
yang dapat dilakukan guru dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa di sekolah,
antara lain :
1.
Memberi Angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol
dari nilai kegiatan siswa. Angka-angka yang baik bagi siswa merupakan motivasi
yang sangat kuat, tetapi juga banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin
naik kelas saja.
Yang perlu diingat oleh guru, bahwa
pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati.
Oleh karena itu guru harus mencari solusi bagaimana cara memberikan angka yang
terkait dengan nilai yang terkandung dalam setiap pengetahuan, sehingga tidak
hanya nilai kognitif saja, melainkan juga keterampilan dan apektifnya.
2.
Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai
motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian karena hadiah untuk suatu pekerjaan
mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat
untuk pekerjaan tersebut.
3.
Saingan atau Kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan
sebagai alat motivasi belajar siswa. Persaingan antar individu maupun kelompok
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
4.
Memberi Ulangan atau Tes
Para siswa akan menjadi giat belajar
kalau mengetahui akan ada ulangan. Yang harus diingat oleh guru jangan terlalu
sering memberi ulangan, hendaknya bila akan ulangan harus diberitahukan
terlebih dahulu.
5.
Mengetahui Hasil
Semakin mengetahui grafik hasil
belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar,
dengan harapan hasilnya akan terus meningkat.
6. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses atau
berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian
merupakan bentuk motivasi yang positif.
7.
Hukuman
Hukuman sebagai bentuk motivasi yang
negatif, tetapi kalau diberikan secara bijak dapat menjadi alat motivasi yang
baik.
8.
Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada
unsur kesengajaan pada diri anak didik sehingga hasilnya akan lebih baik pula.
9.
Minat
Minat muncul karena ada kebutuhan.
Proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai minat yang kuat.
10. Tujuan yang Diikuti
Rumusan yang diikuti dan diterima
baik oleh siswa merupakan alat motivasi yang sangat penting. Dengan memahami
tujuan yang harus dicapai, maka akan timbul gairah untuk belajar.
Jenis-Jenis Motivasi
Dilihat
dari berbagai sudut pandang, para ahli psikologi berusaha untuk menggolongkan
motif-motif yang ada pada manusia atau suatu organisme kedalam beberapa
golongan menurut pendapatnya masing-masing. Diantaranya menurut Woodwort dan
Marquis sebagaimana dikutip oleh Ngalim Purwanto, motif itu ada tiga golongan
yaitu :
a. Kebutuhan-kebutuhan organis
yakni, motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam
dari tubuh seperti : lapar, haus, kebutuhan bergerak, beristirahat atau tidur,
dan sebagainya.
b. Motif-motif yang timbul yang
timbul sekonyong-konyong (emergency motives) inilah motif yang timbul bukan
karena kemauan individu tetapi karena ada rangsangan dari luar, contoh : motif
melarikan diri dari bahaya,motif berusaha mengatasi suatu rintangan.
c. Motif Obyektif yaitu motif yang
diarahkan atau ditujukan ke suatu objek atau tujuan tertentu di sekitar kita,
timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita.
Arden N.
Frandsen yang dikutip oleh Sardiman, A.M, mengemukakan jenis motivasi dilihat
dari dasar pembentukannya, yaitu : motif bawaan (motive psychological drives)
dan motif yang dipelajari (affiliative needs), misalnya : dorongan untuk
belajar suatu cabang ilmu pengetahuan dan sebagainya.
Selanjutnya
Sartain membagi motif-motif itu menjadi dua golongan sebagai berikut :
a. Psychological drive adalah
dorongan-dorongan yang bersifat fisiologis atau jasmaniah seperti lapar, haus
dan sebagainya.
b. Sosial Motives adalah dorongan-dorongan
yang ada hubungannya dengan manusia lain dalam masyarakat seperti : dorongan
selalu ingin berbuat baik (etika) dan sebagainya.
Adapun
bentuk motivasi belajar di Sekolah dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
CIRI-CIRI MOTIVASI
Untuk melengkapi uraian mengenai
makna dan teori tentang motivasi, perlu dikemukakan adanya beberapa ciri-ciri
motivasi. Motivasi yang ada pada diri setiap orang itu memiliki ciri-ciri
sebagai berikut :
1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam
waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) tidak
memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat
puas dengan prestasi yang telah dicapainya).
3. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk
orang dewasa.
4. Lebih senang bekerja mandiri.
5. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang
bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja sehingga kurang aktif).
6. Dapat mempertahankan pendapatnya. (kalau sudah yakni akan
sesuatu)
7. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.
8. Senang mencari dan memecahkan maasalah soal-soal.
Apabila seseorang memiliki ciri-ciri
seperti di atas, berarti seseorang itu memiliki motivasi yang cukup kuat.
Ciri-ciri motivasi seperti itu akan sangat penting dalam kegiatan belajar
mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik, kalau siswa tekun
mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara
mandiri. Siswa yang belajar dengan baik tidak terjebak pada sesuatu yang
rutinitas dan mekanis. Siswa yang harus mempertahankan pendapatnya, kalau ia
sudah yakin dan dipandangnya cukup rasional. Bahkan lebih lanjut siswa harus
juga peka dan responsive terhadap berbagai masalah umum, dan bagaimana
memikirkan pemecahannya. Hal-hal itu semua harus dipahami benar oleh guru, agar
dalam berinteraksi dengan siswanya dapat memberikan motivasi yang tepat dan
optimal.
BENTUK-BENTUK MOTIVASI
Berbicara tentang macam atau jenis
motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian
motivasi atau motif-motif yang aktif itu sangat bervariasi. Dengan demikian
bentuk-bentuk motivasi adalah sebagai berikut :
1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya.
a. Motif-motif bawaan, yaiktu motif
yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi ini tanpa dipelajari.
b. Motif-motif yang dipelajari,
maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari.
2. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Yang termasuk motivasi jasmaniah
seperti refelks, instink, otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motif
rohaniah, yaitu kemauan
3. Motivasi intrinsic dan ekstrinik
a. Motivasi Ontrinsik
Motivasi intrinsik yaitu motif-motif
yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Karena
diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Perlu
diketahui bahwa siswa yang memiliki tujuan orang yang terididik, yang
berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk
menuju yang ingin dicapai adalah belajar. Tanpa belajar tidak mungkin mendapat
pengetahuan. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan.
Kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan
berpengathuan. Jadi, memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri
dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar symbol dan seremonial.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik yaitu
motif-motif yang aktif berfungsinya karena adanya perangsang dari luar.
Motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di
dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari
luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Perlu
ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak
penting. Sebab, kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan
juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang
kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
UNSUR-UNSUR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BELAJAR
Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar adalah:
a.
Cita-cita atau aspirasi siswa.
Motivasi belajar tampak pada
keinginan anak sejak kecil. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut
menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan dikemudian hari cita-cita dalam kehidupan.
Dari segi emansipasi kemandirian, keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar
kemauan dan semangat belajar. Dari segi pembelajaran, penguatan dengan hadiah
atau juga hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan, dan kemudian
kemauan menjadi cita-cita.
b.
Kemampuan siswa.
Keinginan seorang anak perlu
dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Kemampuan akan
memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c.
Kondisi siswa.
Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani
sangat mempengaruhi motivasi belajar.
d.
Kondisi lingkungan siswa.
Lingkungan siswa berupa keadaan
alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, kehidupan kemasyarakatan.
Dengan kondisi lingkungan tersebut yang aman, tentram, tertib dan indah maka
semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e.
Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran.
Siswa memiliki perasaan, perhatian,
kemauan, ingatan, pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup.
Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku
belajar.
f.
Upaya guru dalam membelajarkan siswa.
Guru adalah seorang pendidik
profesional. Ia bergaul setiap hari dengan puluhan atau ratusan siswa. Sebagai
pendidik, guru dapat memilil dan memilah yang baik. Partisipasi dan teladan
memilih perilaku yang baik tersebut sudah merupakan upaya membelajarkan dan
memotivasi siswa.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BELAJAR
Ada empat faktor yang mempengaruhi
perkembangan motivasi belajar, yaitu lingkungan budaya, keluarga, sekolah dan
siswa itu sendiri. Motivasi belajar bisa menurun akibat ambisi orang tua atau
sistem peringkat di sekolah. Memaksa siswa menerima beban melebihi kapasitasnya
tentu saja membuat siswa berkembang secara tidak sehat. Keinginan menciptakan
siswa ”hebat” justru bisa menghasilkan siswa yang bermasalah.
Motivasi sebagai faktor utama dalam
belajar yakni berfungsi menimbulkan, mendasari, dan menggerakan perbuatan
belajar. Menurut hasil penelitian melalui observasi langsung,bahwa kebanyakan
siswa yang besar motivasinya akan giat berusaha,tampak gagah,tidak mau
menyerah, serta giat membaca untuk meningkatkan hasil belajar serta memecahkan
masalah yang dihadapinya. Sebaliknya mereka yang memiliki motivasi rendah,
tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada
pembelajaran yang akibatnya siswa akan mengalami kesulitan belajar.
Motivasi menggerakan individu,
mengarahkan tindakan serta memilih tujuan belajar yang dirasa paling berguna
bagi kehidupan idividu. Mempelajari motivasi maka akan ditemukan mengaapa
individu berbuat sesuatu karaena motivasi individu yidak dapat diamati secara
langsung, sedangkan yang dapat diamati adalah manifestasi dari motivasi itu
dalam bentuk tingkah laku yang nampak pada individu setidaknya akan menjadi
mendekati kebenaran apa yang menjadi motivasi individu bersangkutan.
TEORI-TEORI MOTIVASI DALAM BELAJAR
a.
Teori Kebutuhan
Teori ini berfokus pada tiga
kebutuhan :
1.
Kebutuhan Pencapaian: Dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar,
berusaha keras untuk berhasil. Individu dengan kebutuhan ini lebih menyukai
situasi-situasi pekerjaan yang memiliki tanggung jawab pribadi, umpan balik,
dan resiko tingkat menengah. Ketika karakteristik-karakteristik ini merata,
individu yang berprestasi tinggi akan sangat termotivasi.
2.
Kebutuhan Kekuatan (nPow): Keinginan untuk memiliki pengaruh, dan mengendalikan
individu lain. Individu dengan nPow tinggi suka bertanggung jawab, berjuang
untuk mempengaruhi individu lain, senang ditempatkan dalam situasi yang
kompotitif dan berorientasi status, serta cendrung lebih khawatir dengan
wibawa.
3.
Kebutuhan Hubungan: Keinginan untuk menjalin suatu hubungan antar personal yang
ramah dan akrab. Kebutuhan ini mendapatkan perhatian yang paling sedikit dari
para peneliti. Individu dengan motif hubungan yang tinggi berjuang untuk
persahabatan, lebih menyukai situasi-situasi yang kooperatif dari pada
situasi-situasi yang kompetitif dan menginginkan hubungan-hubungan yang
melibatkan tingkat pengertian mutual yang tinggi.
b.
Teori Efektifitas Diri
Teori Efektifitas diri (
Self-Efficacy yang juga dikenal sebagai
teori kognisi social atau teori pembelajaran social ) Merujuk padan keyakinan
individu bahwa ia mampu mengerjakan suatu tugas. Semakin tinggi efektifitas
diri individu, semakin tinggi rasa percaya diri yang ia miliki dalam kemampuan
untuk berhasil dalam suatu tugas. Jadi, dalam situasi-situasi sulit, individu
merasa bahwa individu yang memiliki
efektifitas diri rendah cenderung mengurangi usaha atau menyerah, sementara
individu dengan efektifitas diri tinggi akan berusaha lebih keras untuk
mengalahkan tantangan.
Selain itu, individu yang memiliki
efektifitas diri yang tinggi tampak merespon umpan balik negative dengan usaha
dan motivasi yang lebih tinggi, sementara individu dengan efektifitas diri
rendah cenderung mengurangi usaha ketika diberi umpan balik negative.
c.
Teori Penguatan ( Reinforcement Theory )
Dalam teori ini mempunyai sebuah
pendekatan perilaku, yang menunjukkan bahwa penguatan mempengaruhi
perilaku. Teori ini mengabaikan keadaan
batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi pada seseorang ketika
ia melakukan tindakan.
d.
Teori Keadilan
Menyatakan bahwa individu cenderung
membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan –
masukan dan hasil pekerjaan orang lain dan kemudian merespon untuk
menghilangkan ketidakadilan.
e.
Teori Harapan.
Menunjukkan bahwa kekuatan dari
suatu kecenderungan untuk bertindak dalam cara tertentu bergantung pada
kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil
yang ada dan pada daya tarik dari hasil itu terhadap individu tersebut.
Teori ini
berfokus pada tiga hubungan :
1.
Hubungan usaha–Kinerja. Kemungkinan yang dirasakan oleh individu yang
mengeluarkan sejumlah usaha akan menghasilkan kinerja.
2.
Hubungan kinerja-Penghargaan. Tingkat sampai mana individu tersebut yakin bahwa
bekerja pada tingkat tertentu akan menghasilkan pencapaian yang diinginkan.
3.
Hubungan penghargaan–Tujuan pribadi. Tingkat sampai mana
penghargaan-penghargaan yang diberikan memuaskan tujuan-tujuan pribadi atau
kebutuhan-kebutuhan seorang individu dan daya tarik dari penghargaan-
penghargaan potensial bagi individu tersebut.
STRATEGI MOTIVASI BELAJAR
Menurut Catharina Tri Ani
(2006:186-187) ada beberapa strategi motivasi dalam belajar antara lain sebagai
berikut:
1.Membangkitkan minat belajar
Pengaitan pembelajaran dengan minat
siswa adalah sangat penting dan Karena tunjukkanlah bahwa pengetahuan yang
dipelajari itu sangat bermanfaat bagi mereka.Cara lain yang dapat diberikan
adalah memberikan pilihan kepada siswa tentang materi pembelajaran yang akan
dipelajari
2.Mendorong rasa ingin tahu
Guru yang terampil akan mampu
menggunakan cara untuk membangkitkan dan memelihara rasa ingin tahu siswa
didalam kegiatan pembelajaran. Metode pembelajaran studi kasus,diskoveri
inkuiri,diskusi,curah pendapat dan sejenisnya, merupakan beberapa metode yang
dapat digunakan untuk membangkitkan hasrat ingin tahu siswa.
3.Menggunakan variasi metode
penyajian yang menarik
Motivasi untuk belajar sesuatu dapat
ditingkatkan melalui penggunaan materi pembelajaran yang menarik dan juga
penggunaan variasi metode penyajian.
4.Membantu siswa dalam merumuskan
tujuan belajar
Prinsip yang mendasar dari motivasi
adalah anak akan belajar keras untuk mencapai tujuan apabila tujuan itu
dirumuskan atau ditetapkan oleh dirinya sendiri dan bukan dirumuskan atau
ditetapkan oleh orang lain.
BEBERAPA CARA AGAR SISWA MEMPUNYAI MOTIVASI BELAJAR
1. Menerima siswa apa adanya.
Siswa adalah seorang manusia yang masih muda dan perlu dibimbing guna menjadi
manusia dewasa. Tiap siswa mempunyai karakter dan bakat yang berbeda. Oleh
karena itu, tiap siswa merupakan pribadi yang unik, yang membuatnya berbeda
dengan lainnya. Guru harus menerima setiap siswa sebagaimana adanya, dengan
segala kekurangan dan kelebihannya. Hal ini akan membentuk rasa harga diri yang
tinggi dalam diri siswa. Guru juga perlu menemukan sesuatu (bakat atau
kelebihan) dalam diri siswa yang bisa membuatnya merasa penting.
2. Menciptakan rasa aman dan
menyenangkan bagi siswa untuk mengeksplorasi serta mengekspresikan seluruh
potensinya. Siswa adalah makhluk yang memiliki rasa ingin tahu. Untuk memenuhi
rasa ingin tahunya, ia akan mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya. Proses
belajar berjalan lancar manakala siswa dapat menguji kemampuannya dan mencoba
pengalaman baru, atau bahkan membuat kesalahan-kesalahan tanpa mendapat kecaman
yang dapat menyinggung perasaan mereka. Rasa aman juga datang dari sikap yang
disiplin dan konsisten. Dengan keteraturan, siswa akan merasa pasti mengenai
apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya. Ketidakpastian akan menimbulkan
keraguan dan ketakutan berbuat salah, yang menyebabkan hilangnya motivasi.
Disiplin yang baik dan tidak kaku harus diterapkan oleh guru dan orang tua,
karena tujuan disiplin adalah menolong siswa guna menjadi individu yang
independen, mandiri, dan dapat menentukan peran mereka sendiri. Disiplin harus
ditegakkan berdasarkan aturan yang masuk akal, kooperatif dan tidak otoriter.
3. Kenali seluruh potensi yang
dimiliki siswa. Sejak awal, ajari siswa untuk menentukan pilihan dan mengambil
keputusan bagi dirinya sendiri. Tujuan yang dipilih dan ditetapkan sendiri
mengandung motivasi yang lebih kuat daripada tujuan yang ditetapkan oleh orang
lain. Apalagi tujuan atau potensi tertentu terlalu banyak ditentukan orang
lain, bisa jadi tujuan itu tidak sesuai dengan kemampuan siswa.
4. Berkomunikasilah dengan siswa
tentang apa yang ingin mereka wujudkan dan apa saja hambatannya. Hal ini bisa
dilakukan secara terbuka antara guru, orang tua dan siswa.
Sementara itu Nasution (1986: 85)
mengemukakan beberapa petunjuk singkat dalam rangka upaya guru membangkitkan
motivasi belajar siswa di sekolah, antara lain:
1.
Usahakan agar tujuan pelajaran jelas dan menarik, motif mempunyai tujuan, makin
jelas tujuan, makin kuat motivasi.
2. Guru
sendiri harus antusias mengenai pelajaran yang diberikan.
3.
Ciptakan suasana yang menyenangkan, senyuman yang menggembirakan suasana.
4. Usahakan agar anak-anak turut
serta dalam pelajaran. Anak-anak ingin aktif.
5.
Hubungkan pelajaran dengan kebutuhan anak.
6.
Pujian dan hadiah lebih berhasil dari hukuman dan celaan. Sebaiknya biarlah
hasil baik dalam pekerjaan merupakan hadiah bagi anak.
7.
Pekerjaan dan tugas harus sesuai dengan kematangan dan kesanggupan anak.
8.
Mengetahui hasil baik menggiatkan usaha
murid.
9. Hasil
buruk apalagi kalau terjadi berulang-ulang akan mematahkan semangat.
10. Hargailah
pekerjaan murid.
11. Berilah
kritik dengan senyuman. Janganlah anak mendapatkan kesan bahwa guru marah
kepadanya, tetapi hanya kecewa atas hasil pekerjaannya atau perbuatannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Dimyati dan
Mudjiono,1994.Belajar Dan Pembelajaran.Jakarta:Depdikbud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar